Cari Blog Ini

Rabu, 14 September 2016

Pengertian Al-Qur'an

Apakah Al-Qur'an itu ?
  •  Arti kata Al-Qur'an dan apa yang dimaksud dengan Al-Qur'an.
''Qur'an'' menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan oleh Dr. Subhi Al-Salih berarti ''bacaan'' asal kata qaraa.
Di dalam Al-Qur'an sendiri ada pemakaian sendiri ada pemakaian kata ''Qur'an'' dalam arti demikian sebagai yang tersebut dalam ayat 17,18 surat (75) Al-Qiyamah :                                                 

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ  O فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Artinya : "sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur'an (didalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan kami. (karena itu) jika kami telah membacanya, hendaklah kamu ikuti bacaanya"

  Kemudian dipakai kata ''Qur'an'' itu untuk Al-Qur'an yang sekarang ini. adapun difinisi al-qur'an itu ialah : kalam Allah s.w.t  yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad s.a.w dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir dan membacanya adalah ibadah.
 Dengan difinisi ini, Kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain nabi Muhammad,. tidak dinamakan Al-Qur'an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s, Zabur yang diturukn kepada Nabi Daud a.s atau Injil yang diturunkan kepada nabi Isa a.s demikian pula Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang membacanya tidak diangggap ibadah, seperti hadits Qudsi, tidak pula di namakan al-qur'an
  • Cara-cara Al-Qur'an diwahyukan.
Nabi Muhammad s.a.w. dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan antara lain :
  1. malaikat memasukan wahyu itu kedalam hatinya. dalam hal ini Nabi Muhammad s.a.w tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabbi mengatakan "Ruhul Quddus mewahyukan kedalam kalbuku'' (lihat surah (42) Asy Syuura ayat 51.
  2. Malaikat menampakan dirinya kepada nabii berupa Laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal betul kata-kata itu.
  3. wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. cara inilah yang amat berat dirasakan oleh nabi. karena kadang-kadang pada keningnya berkucuran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang menusuk. bahkan kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. diriwayatkan oleh Zaid bin Sabit yang juga sebagai sekretaris pribadi Nabi : " aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. kemudian setelah selesainya wahyu itu, barulah beliau kembali seperti biasa".
  4. Malaikat menampakan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti yang tersebut pada no. 2, tetapi benar-benar berwujud aslinya. Hal ini tersebut dalam Al-Qur'an surah (53) An Najm 13 dan 14
      Oوَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى
Artinya : "sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). ketika (ia berada) di Sidratul muntaha

  • Hikmah diturunkan Al-Qur'an secara berangsur-angsur.
Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun. 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah al-munawwarah. Hikmah Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur ialah :
  1. Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. orang akan enggan melaksanakan perintah dan larangan jika keduanya itu diturunkan sekaligus. Hal ini disebutkan oleh bukhari dari riwayat ummul mukminin 'Aisyah r.a.
  2. Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kemashlahatan umat. ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al-Qur'an diturunkan sekaligus (ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dam mansukh).
  3. turunnya suatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
  4. memudahkan penghafalan. orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana tersebut dalam al-quran surah (25) Al-Furqaan ayat 32, yaitu : ''.......... mengapakah Al-Qur'an tidak diturunkan kepadanya sekaligus ............? " kemudian dijawab dalam ayat itu sendiri: "................Demikianlah, dengan (cara) begitu kami hendak menetapkan hatimu...."
  5. Di antara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban daripdnya pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau per 'buatan, sebagai dikatakan oleh ibnu  'Abbas r.a. hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al-qur'an diturunkan sekaligus.
  • Ayat-ayat Makkiyah dan ayat-ayat Madaniyyah
Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al-Qur'an itu di bagi atas dua golongan :
  1. Ayat-ayat yang diturunkan di Makkah atau sebulum Nabi Muhammad Hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Makkiyyah.
  2. Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Madaniyyah. 
Ayat-ayat Makkiyyah meliputi 19/30 dari isi Alqur'an terdiri atas 86 surat, sedang ayat-ayat Madinah meliputi 11/30 dari isi Al-Qur'an terdiri atas 28 surat.
      Perbedaaan ayat-ayat Makkiyah dengan ayat-ayat Madinah ialah :
  1. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek sedang ayat-ayat madaniyyah panjang-panjang; surat madaniyyah yang merupakan 11/30 dari isi Al-qur'an ayat-ayatnya berjumlah 1.456, sedang surat makkiyah yang merupakan 19/30 dari isi Al-qur'an jumlah ayat-ayatnya 4.780 ayat. Juz 28 seluruhnya Madaniyyah kecuali surat (60) Mumtahanah, ayat-ayatnya berjumlah 137; sedang Juz 29 ialah Makkiyah kecuali surat (76) Ad Dahr, ayat-ayatnya berjumlah 431; surat Al-Anfal dan surat Asy Syu'araa masing-masing merupakan setengah Juz tetapi yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua Makkiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227.
  2. Dalam surat-surat Madaniyyah terdapat perkataan "ya ayyuhalladzina aamanu" dan sedikit sekali terdapat perkataan "ya ayyuhannas". sedang dalam surat-surat Makkiyyah sebaliknya.
  3. Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah Nabi dan Umat terdahulu yang berisikan pengajaran dan budi pekerti; sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum seperti hukum adat atau keduniawiyan seperti hukum kemasyarakatan, ketatanegaraan, militer, hukum internasional, perkawinan, hukum antar umat beragama dan lain-lain.
  • Nama-nama Al-qur'an.
Allah memberi nama Kitab-Nya dengan Al-Qur'an yang berarti ''bacaan''. Arti ini dapat kita lihat dalam surat Al-Qiyyamah ayat 17 dan 18 sebagaimana tersebut di atas. Nama ini dikuatkan oleh ayat-ayat yang terdapat dalam surat Al-Isra' ayat 88; Al-Baqaraah ayat 85; surat Al-Hijr ayat 87; surat Thaaha ayat 2; surat An Naml ayat 6; surat Al-Ahqaaf ayat 29; surat Al-Waaqi'ah ayat 77; surat Al-Hasyr ayat 21 dan surat Addahr ayat 23.
    Menurut pengertian ayat-ayat di atas, Al-Qur'an itu dipakai sebagai nama bagi kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.
   
    Selain Al-Qur'an, Allah juga memberi beberapa nama lain bagi Kitab-Nya, seperti:
  1. Al-Kitab atau Kitabullah : merupakan sinonim dari perkataan Al-qur'an sebagaimana tersebut dalam surat Al-Baqaraah ayat 2 yang artinya: "kitab (Al-qur'an) ini tidak ada keraguan padanya......." lihat pula pada surat Al-An'am ayat 114.
  2. Al-Furqaan: artinya "Pembeda" yang maksudnya adalah "yang membedakan yang benar dan yang bathil". sebagaimana tersebut dalam surat Al-Furqaan ayat 1 yang artinya : "maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al-Furqaan, kepada hamba-Nya, agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam". 
  3. Adz Dzikir : artinya "peringatan" sebagaiman tersebut dalam surat Al-Hijr ayat 9 yang artinya : "sesungguhnya kamilah yang menurunkan "Adz Dzikir" dan sesungguhnya kamilah penjaganya". (lihat pula surat An Nahl ayat 44).
Dari tiga nama yang di atas yang paling termahsyur dan merupakan nama khas ialah "Al-qur,an".
    Selain dari nama-nama yang tiga ada beberapa lagi nama bagi Al-Qur'an. Imam As Suyuthi dalam kitabnya Al-Itqam, menyebutkan nama-nama Al-Qur'an diantaranya: Al-Mubiin, Al-Kariim, Al-Kalam, An-Nuur.
  • Surat-surat dalam Al-Qur'an.
Jumlah surat yang terdapat dalam Al-Qur'an ada 114; nama-namanya dan batas-batas tiap-tiap surat, susunan ayat-ayatnya adlah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah sendiri.
  Sebagian surat-surat Al-Qur'an mempunyai satu nama dan sebagaian lainnya mempunyai lebih dari satu nama, sebagaimana yang akan diterangkan dalam muqaddimah tiap-tiap surat.
Surat-surat yang ada dalam Al-Qur'an ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian yaitu :
  1. ASSAB'UTHTHIWAL, maksudnya, tujuh surat yang panjang, yaitu Al-Baqaraah, Ali Imran, An-Nisaa, Al-A'raaf, Al-An'aam, Al-Maaidah dan Yunus.
  2. AL-MIUUN, maksudnya surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti: Hud, Yusuf, Mu'min dan sebagainya.
  3. AL-MATSAANI, maksudnya surat-surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat, seperti Al-Anfaal, Al-Hijr dan lain sebagainya.
  4. AL-MUFASHSHAL, maksudnya surat-surat pendek seperti: Adh Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An Nash dan lain sebagainya. 
  • Pembagian Al-Qur'an.
Sejak jaman sahabat telah ada pembagian Al-qur'an menjadi: 1/2, 1/3, 1/5, 1/7, 1/9 dan sebaginya. pembagian tersebut hanya sebagai untuk hafalan dan amalan dalam tiap-tiap sehari semalam atau di dalam Sholat, dan tidak ditulis di dalam Al-Qur'an atau dipinggirnya. barulah pada masa Al Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi diadakan penulisan di dalam atau di pinggir Al-Qur'an dan ditambah dengan istilah-istilah baru.
Salah satu cara pembagian Al-Qur'an itu ialah dibagi menjadi 30 Juz, 114 surat dan 60 hizb.
Tiap-tiap satu surat ditulis namanya dan ayat-ayatnya, dan tiap-tiap hizb ditulis sebelah pinggirnya yang menerangkan yang menerangkan: hizb pertama, kedua dan seterusnya. 

 
Referensi :Al-qur'an dan terjemahannya/diterjemahkan oleh Yayasan penyelenggara Penterjemah dan Penafsir Al-Qur'an Jakarta: Intermasa, 1993. dan dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar